by

Calon Legislatif dalam Pandangan Islam

Calon Legislatif dalam Pandangan Islam

 Oleh: Dianto, M.Pd
Dosen FAI UMSU

gipnkri – Allah Swt berfirman yang artinya: “Sesungguhnya, Kami telah menawarkan amanah (yaitu menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan seluruh larangan-Nya) kepada seluruh langit dan bumi serta gunung-gunung. Maka, semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu banyak berbuat dzalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)
 
Pesta demokrasi sudah dimulai, dari legislatif tingkat DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi, DPD, DPR dan Presiden. Berbicara tentang demokrasi secara umum merupakan bagian yang sangat terpenting sebagai wakil rakyat yang bisa meyampaikan aspirasi rakyat dan memberikan kontribusi yang cukup bermanfaat dalam mensejahterakan rakyat. Inilah sebuah pandangan politik serta tujuan yang harus dicapai oleh setiap pemimpin.
 
Berbicara tentang legislatif berarti berbicara tentang politik, kita melihat saat ini politik menjadi sebuah dilemma serta pendapat yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ada yang berpendapat bahwa politik itu merupakan hal yang sangat penting dalam menduduki sebuah kekuasaan kemudian di pergunakan untuk memperjuangkan rakyat. Ada juga yang berpendapat bahwa politik itu penuh dengan kebohongan dan kebathilan sehingga banya orang yang suka berbuat bohong serta bertujuan untuk memperkaya diri saja. Beberapa pendapat diatas, menjadi sebuah renungan hidup yang harus dipelajari oleh rakyat. Jangan sampai rakyat kembali memilih calon legislatif yang tidak peduli terhadap rakyat.

Ingatlah, calon legislatif merupakan perwakilan rakyat yang harus berjuang di pemerintahan dalam mensejahterakan raknyat. Dengan ia memperjuangkan hak rakyat pasti ia termasuk pemimpin yang peduli terhadap rakyat dan ingin berjuang untuk mensejahterahkan rakyatnya. Inilah harapan yang harus dicapai oleh para caleg jika sudah terpilih jangan lupa dengan raknyatnya. Di tahun 2019 yang akan datang pesta demokrasi menjadi pesta yang sangat bermanfaat untuk membangun bangsa yang lebih baik lagi selama lima tahun kedepan.

Maka, sebagai rakyat biasa dan sebagai rakyat yang mempunyai hak pilih, janganlah sampai memilih yang salah. Jika diri ini salah memilih yakinlah bangsa ini kedepannya akan jauh dari kesejahteraan. Dan kita juga harus memilih caleg yang jujur, bertanggungjawab, peduli terhadap raknya dan bisa membuat perda sesuai nilai-nilai Islam.

 

Dalam ajaran Islam sudah kita pahami bersama bahwa pemimpin itu haru amanah dalam menjalankan pemerintahan sehingga tidak mengkhianati rakyatnya.
 
Maka bagi para pemimpin haruslah merenungkan firman Allah yang artinya:
 

“ Sesungguhnya, Kami telah menawarkan amanah (yaitu menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan seluruh larangan-Nya) kepada seluruh langit dan bumi serta gunung-gunung. Maka, semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu banyak berbuat dzalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)

Kemudian pemimpin yang amanah akan bertanggung jawab terhadap setiap perkara sekecil apapun. Setiap berkata benar-benar tidak ada keraguan, tidak meremehkan waktu walau sedetikpun. Membangun kepemimpinan diawali dengan amanah terhadap hal-hal kecil terlebih dahulu. Pemimpin yang baik tidak hanya sukses di kantor, tapi juga harus sukses di rumah. Tidak sedikit para pemimpin yang mampu mengatur sistem kantor atau negara dengan baik, tetapi tidak berhasil membangun keluarganya sendiri dengan baik.
 
Penulis juga menjelaskan beberpa pandangan rakyat terhadap legislatif saat ini yang sudah pernah memimpin periode 2014 sampai dengan 2019. Pertama: Legislatif itu bersifat ambisius. Ambisius merupakan keinginan keras untuk mencapai tujuan tertentu. Hal inilah yang menjadi permasalahan saat ini, banyak anggota legislative yang sudah terpilih namun ia berambisi untuk mengembalikan biaya kampanye yang sudah dilakukannya sehingga bisa menghambat kinerja kerja anggota legislatif. Jika perbuatan yang demikian masih terus terjadi, yakinlah pemimpin tersebut kedepannya juga tidak akan bisa memberikan manfaat yang baik untuk rakyatnya.
 
Kedua: Legislatif bersifat egois. Inilah salahsatu sifat yang masih tertanam dibeberapa anggota legislatif. Kita melihat mereka mempunyai sifat egois yang sangat luar biasa sehingga tidak peduli dengan rakyatnya dan akhirnya rakyat tetap menjadi miskin. Jika karakter para calon legislatif juga seperti ini, yakinlah bangsa ini kedepannya akan hancur dan jauh dari nilai-nilai ajaran Islam.
 
Lalu bagaimanakah karakter yang benar sesuai syariat Islam yang harus dimiliki oleh para legislatif..??
 
Penulis mencoba menjelaskan sebagai berikut ini,
 
pertama: Legislatif yang amanah. Berbica legislative berarti berbicara kepemimpinan. Kepemimpinan adalah amanah Allah yang harus dijalankan dengan baik. Kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan sebaliknya yang kita lihat saat ini , banyak pemimpin yang berpeluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenanng sehingga mereka lupa terhadap rakyatnya.
 
Kedua: Legislatif yang Adil. Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih. Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak dan rakyatnya. Diantaranya adalah dengan mengurus dan melayani semua lapisan masyarakat tanpa memandang agama, etnis, budaya, dan latar belakang. Maka sebagai rakyat biasa mereka akan merasakan kesenangan dan kebahagiaan hidup yang sepantasnya.
 
Ketiga: Legislatif disebut khadimul ummah atau pelayan umat. Dapat kita pahami bahwa seorang pemimpin harus menempatkan diri pada posisi sebagai pelayan masyarakat, bukan minta dilayani. Karena kita melihat saat ini banyak pemimpin yang sudah tidak peduli terhadap rakyatnya, mereka hanya mementingkan diri sendiri. Dengan demikian, hakikat pemimpin adalah seorang pemimpin harus sanggup dan bersedia menjalankan amanah Allah untuk mengurus dan melayani masyarakatnya.
 
Penutup
 

Legislatif merupakan perwakilan rakyat dan harus peduli terhadap rakyat. Jika legislatif tidak peduli, ia dapat dikatakan sebagai legislatif yang bersikap ambisi serta egois yang hanya mementingkan dirinya saja. Maka, sebagai rakyat biasa harus cerdas dalam memilih pemimpin agar bangsa ini bisa menjadi bangsa yang maju dan sejahtera.

*Telah dimuat di Harian Mimbar Umum, Jumat 9 November 2018

Comment

News Feed